Archive for February 2009
Yang lagi rame, PONARI SWEAT
Saat ini memang berita tentang Ponari, si Bocah Petir dari Jombang telah menjadi sajian kita sehari-hari. Bahkan hampir setiap hari nama Ponari muncul di koran sebagai bocah 1 Milyar. Tidak mau kalah, kami pun turut serta membicarakannya. Berikut ini adalah beberapa pendapat :
Untuk mengatasi antrean yang panjang, salah satu teman mengusulkan untuk memasukkan batu ajaib tersebut ke dalam sumur, tinggal dibuatkan pompa atau ditimba saja biar lebih alami. Menurut saya ini adalah ide yang cukup bagus, daripada Ponari kehilangan kesempatan bermain (soalnya waktu teman saya kesana, Ponari berhenti sebentar dari praktek untuk bermain layangan).
Berbeda lagi dengan teman yang satunya, dimana ia mempunyai ide untuk membuat semacam air mineral “PONARI MINERAL” yang dijual dalam bentuk botol (iya, emang kita orang teknik kimia, jadi mikirnya bisnis melulu). Ditambah lagi dengan kata-kata begini : Ponari Mineral, Berasal dari air pegunungan asli ditambah sari-sari petir!. Wow, ide yang sangat bagus menurut saya, lebih baik dari ide pertama tadi.
Googling dari internet, ternyata ada ide yang lebih gila dan sudah diimplementasikan, yaitu membuat PONARI SWEAT. Mau tahu seperti apa?. Berikut ini Iklannya. Siapa tahu, ada teman, saudara, kakek , nenek anda membutuhkan?
Kemarin menemukan sebuah gambar plesetan iklan yang lumayan lucu. Judulnya Ponari Sweat, perpaduan nama dukun cilik dari Jombang dengan sebuah produk minuman kesehatan.
Gambar PONARI SWEAT. ![]()

Brewokan aja minumnya Ponari Sweat.

Ponari Sweat versi sachet juga tersedia. hehe
Korban Demokrasi!
Saya prihatin mendengar berita yang sedang hangat-hangatnya hari ini, yaitu tentang tewasnya Abdul Azis Angkat, Ketua DPRD Medan. Abdul Azis “mangkat” setelah dipukul oleh “massa” yang berdemonstrasi menuntut pemekaran wilayah Tapanuli.
Saya tidak tahu tentang wilayah Tapanuli, artinya opini saya ini tentu saja tidak mencerminkan keinginan “rakyat” Tapanuli, apakah mereka benar-benar menginginkan pemekaran wilayah, atau hanya sebagian kecil orang yang berlindung dibalik badan rakyat dan massa.
Rakyat, sebuah kata yang saat ini telah menjadi komoditas yang sangat menarik, “Massa” demikian juga. Menarik karena dengan menggunakan nama tersebut seseorang bisa berlindung dari tanggungjawab pribadi. Siapa yang akan bertanggungjawab, misalkan kita menamai diri “Rakyat Pro Demokrasi” “Massa Peduli Penderitaan Rakyat”. “Massa Penghajar Pencopet sampai tewas!”
Kalau dipikir-pikir, memang kita ini sangat tidak bertanggungjawab. Beraninya keroyokan. Beda dengan jagoan jaman dahulu yang berani bilang begini ” Kalau berani, ayo maju satu-satu”. Sedangkan kebanyakan jaman sekarang bilangnya “Kalau kamu macam-macam, saya bilangin bapak saya”.
Nah, berkumpulnya orang banyak tentu saja pengendaliannya sangat sulit, apalagi sekarang, kita ini sedang beringas. Beringas karena terlalu banyak rasa sakit hati yang harus kita tanggung, terlalu banyak beban yang mendera. Mulai kesulitan ekonomi, lapangan pekerjaan yang sempit, sekolah yang mahal, harga barang yang melangit dan sebagainya. Selain itu, berlaku rumus
1 orang penakut + 1 orang penakut = 2 orang berani
Bayangkan rumus itu jadinya bila yang ada adalah 500 orang penakut + 1 orang pengecut!.
Coba kita pikir-pikir ulang dengan berandai-andai:
Andaikan saya adalah Ketua badan A, lalu ratusan orang datang mendemo saya, mencaci maki saya, menyodorkan kertas berisi tuntutan yang harus saya tandatangani saat itu juga (biasanya saya harus mereview dan memikirkannya 2 hari dulu sebelum memutuskan). Saya dipukul, dilempari, ditendang, dilecehkan, dikatakan goblok (karena saya tidak bisa menerima logika mereka?).
Kira-kira dalam posisi seperti itu, apa yang anda rasakan?
Saya skeptis dengan sistem demokrasi kalau hanya sekedar menghasilkan orang-orang yang penakut, yang berlindung dibalik nama orang banyak, tetapi tidak berani memunculkan diri “inilah saya”. Jadi, apa yang diharapkan dari demokrasi semacam ini?. Korban yang terus bertambah??
Ternyata, harga demokrasi harus dibayar dengan nyawa…
